Titik Buta (blind spot) seorang pemimpin

Smart Leaders, kita sering menganggap pemimpin hebat sebagai seseorang yang tahu apa saja, serta visioner. Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hampir setiap orang memiliki titik buta (blind spot), termasuk pemimpin hebat.

Seorang pemimpin harus percaya diri dengan kemampuannya, namun ia juga harus cukup bijaksana menyadari mereka tidak bisa melihat semuanya. Titik buta bukanlah hal buruk, karena bisa membantu Anda menjaga kepercayaan diri saat menghadapi tantangan berat.

Akan tetapi, jika blind spot menghalangi Anda melihat kenyataan atau membutakan Anda dari masalah penting, maka hal tersebut harus diselesaikan.

Dilansir dari FastCompany.com, beberapa kelemahan ini akan menjadi titik buta bahkan untuk pemimpin hebat.

1. Menilai kemampuan strategis terlalu berlebihan

Orang-orang di posisi kepemimpinan cenderung berpikir mereka lebih strategis dari yang sebenarnya. Mereka mungkin meraih posisi mereka sekarang dan bertanggung jawab memikirkan pemasaran, kompetisi, dan pertumbuhan. Perubahan cara berpikir dari menyelesaikan masalah operasional menjadi berpikir gambaran besarnya akan membuat mereka menilai diri mereka terlalu berlebihan. Terkadang tanpa disadari, mereka terjebak menyelesaikan permasalahan operasional tanpa menyediakan kepemimpinan strategis yang dibutuhkan untuk mendorong perusahaan tetap maju.

2. Mendahulukan menjadi benar daripada menjadi efektif

Mengetahui bahwa Anda membuat keputusan yang salah, atau menahan pandangan yang keliru tidak pernah menyenangkan. Namun, banyak pemimpin yang bertahan untuk menjadi benar dan mengabaikan informasi yang bisa membuat mereka lebih efektif. Blind spot ini tidak hanya mengarah ke pengambilan keputusan keliru, tapi juga menyurutkan keinginan anggota tim untuk berkontribusi.

3. Melindungi anggota tim terlemah

Kadang-kadang pemimpin memiliki titik buta jika berhubungan dengan anggota timnya. Mereka terkadang luput dan tidak mau melihat kelemahan anggota timnya, tidak mau menyadari bahwa mereka tidak memberikan performa yang baik.

Atau pemimpin tersebut langsung terjun menangani masalah yang melibatkan anggota tim terlemah. Hal tersebut menimbulkan anggapan dari yang lain bahwa pemimpin tersebut pilih kasih. Bagi anggota tim yang dibela, akan menimbulkan anggapan ia tidak dipercaya menangani suatu masalah.

4. Berkomunikasi tidak efektif

Seorang pemimpin sering berlebihan menilai kemampuan komunikasi dirinya. Mereka merasa telah terhubung, berkomunikasi dengan jelas dan lancar dengan anggota timnya. Mereka sering merasa telah menyampaikan perintah, atau informasi dengan terang dan jelas, akan tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

5. Melewatkan kejadian di sekitarnya

Hal ini bisa berupa merasa mengetahui apa yang penting untuk anggota Anda, meremehkan kompetitor, atau gagal menyadari kenyataan di sekitar Anda. Ketika Anda merasa tahu lebih banyak tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu, membangun asumsi tanpa mengumpulkan fakta, maka Anda terlah terbutakan.

Menemukan blind spot tidak selalu mudah. Untuk menemukannya, Anda harus meninjau lagi masa lalu, dan melihat kesalahan-kesalahan yang pernah Anda lakukan. Jika Anda bisa menemukan polanya, maka Anda kemungkinan menemukan titik buta Anda.

Cara lain menemukan blind spot Anda adalah dengan bertanya pada orang terdekat yang Anda percaya. Mereka bisa memberikan pendapat jujur tentang hal-hal yang luput dari perhatian Anda.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted